Kenapa Warung Makan Sederhana Tetap Ramai? Kita Ternyata Semakin Bergantung pada Makanan Jadi

Perhatikan sebuah warung makan sederhana pada jam makan siang. Tidak ada desain interior yang mewah. Tidak ada menu yang puluhan halaman. Tetapi meja tetap terisi: pekerja kantor, pengemudi, pedagang, mahasiswa, dan orang-orang yang sedang mengejar waktu.
Kita sering menganggap pemandangan seperti ini sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, jika dilihat dari data, kebiasaan membeli makanan yang sudah jadi memang telah menjadi bagian besar dari kehidupan rumah tangga Indonesia.
Bukan Sekadar Soal “Doyan Jajan”
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Susenas September 2024, makanan dan minuman jadi menyumbang 21,72 persen dari konsumsi kalori harian penduduk Indonesia. Di perkotaan porsinya bahkan 23,63 persen. Artinya, makanan yang dibeli dalam bentuk siap santap bukan lagi sekadar pelengkap; kontribusinya sudah cukup besar dalam pola konsumsi sehari-hari. (BPS, Susenas September 2024)
Data pengeluaran BPS juga menunjukkan bahwa kelompok “makanan dan minuman jadi” merupakan salah satu komponen terbesar belanja makanan. Dalam tabel Susenas Maret 2022, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp207.650 secara nasional, dibandingkan total pengeluaran makanan Rp665.757. Itu setara sekitar 31 persen dari belanja makanan pada data tersebut. (BPS, Susenas Maret 2022)
Angka-angka itu membantu menjelaskan sesuatu yang sering kita lihat setiap hari: masyarakat bukan hanya membeli makanan karena rasanya enak. Mereka juga sedang membeli kemudahan.
Yang Dibeli Sebenarnya Bukan Hanya Nasi
Bayangkan seorang karyawan yang pulang pukul enam sore. Ia masih harus menghadapi perjalanan, anak yang perlu diperhatikan, pekerjaan rumah, dan mungkin pekerjaan yang belum selesai.
Secara teori, memasak sendiri bisa lebih murah. Tetapi memasak juga membutuhkan waktu untuk berbelanja, menyiapkan bahan, memasak, mencuci peralatan, dan membereskan dapur.
Ketika seseorang membeli makan malam seharga Rp20 ribu atau Rp25 ribu, sebagian uang itu sebenarnya dibayarkan untuk sesuatu yang tidak terlihat di piring: waktu yang berhasil dihemat.
Karena itu, pertanyaan “kenapa orang masih sering beli makanan di luar padahal bisa masak sendiri?” sebenarnya kurang tepat.
Pertanyaan yang lebih masuk akal adalah: berapa harga waktu kita?
Itulah Mengapa Warung Sederhana Sulit Tergeser
Kita mungkin membayangkan perkembangan kuliner identik dengan restoran modern, coffee shop, makanan viral, atau layanan pesan-antar.
Namun kebutuhan paling dasar tetap sama: makanan yang mudah ditemukan, cepat disajikan, rasanya familiar, dan harganya masuk akal.
BPS bahkan mencatat bahwa sektor penyediaan akomodasi dan makan minum merupakan lapangan usaha yang terus dipantau dalam Sensus Ekonomi 2026. Di Surabaya, jumlah pekerja pada sektor ini pada 2025 mencapai 72.346 orang, tertinggi dalam periode pencatatan sejak 2015 menurut data BPS yang dirangkum Databoks. (Databoks, berdasarkan data BPS)
Angka Surabaya memang bukan gambaran seluruh Indonesia. Tetapi ia memberi contoh bagaimana kebutuhan terhadap makan-minum menciptakan ekosistem pekerjaan yang besar di kota.
Warung Makan Juga Menjual Kedekatan
Ada alasan lain mengapa warung sederhana bisa bertahan.
Orang sering datang bukan hanya karena makanan. Mereka datang karena sudah dikenal. Penjual tahu pesanan pelanggan. Pelanggan tahu rasa makanannya. Ada rasa percaya yang terbentuk dari kebiasaan bertahun-tahun.
Dalam bisnis, hal seperti ini sulit dihitung hanya dengan laporan keuangan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, nilainya jelas.
Warung yang selalu ramai mungkin sebenarnya memiliki sesuatu yang tidak terlihat oleh restoran besar: hubungan dengan pelanggan.
Ada Pelajaran Penting untuk Kita yang Membeli
Data tentang makanan jadi tidak harus membuat kita merasa bersalah karena sering makan di luar.
Yang lebih penting adalah menyadari bahwa pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa menjadi bagian besar dari keuangan rumah tangga.
Misalnya, makan siang Rp25 ribu selama 22 hari kerja berarti sekitar Rp550 ribu dalam sebulan. Tambahkan minum atau camilan Rp10 ribu per hari, jumlahnya menjadi sekitar Rp770 ribu.
Angka itu belum tentu terlalu besar bagi sebagian orang. Tetapi bagi keluarga dengan anggaran ketat, selisih tersebut bisa berarti cukup banyak.
Jadi, yang perlu diperhatikan bukan “boleh atau tidak makan di luar”, melainkan apakah uang yang kita keluarkan memang sepadan dengan waktu dan manfaat yang kita dapatkan?
Pelajaran untuk Pemilik Usaha Juga Ada
Fenomena ini juga menarik bagi orang yang ingin membuka usaha makanan.
Barangkali pelanggan tidak selalu mencari makanan yang paling unik. Mereka sering mencari sesuatu yang lebih sederhana: harga jelas, rasa konsisten, cepat, bersih, dan lokasinya mudah dijangkau.
Warung makan sederhana yang memenuhi lima hal itu bisa mempunyai pelanggan tetap tanpa harus menjadi tempat yang viral.
Dalam bisnis kuliner, mungkin justru ada pelajaran dari warung yang terlihat biasa-biasa saja: kebiasaan pelanggan sering lebih berharga daripada tren.
Kita Sedang Membeli Lebih Banyak Waktu
Pada akhirnya, fenomena makanan jadi bercerita tentang sesuatu yang lebih besar daripada kuliner.
Semakin sibuk kehidupan seseorang, semakin tinggi nilai waktu yang ia miliki.
Karena itu, ketika seseorang membeli makan siang dari warung dekat kantor, memesan makanan melalui aplikasi, atau memilih makan di luar bersama keluarga, ia tidak hanya membeli makanan.
Ia juga membeli waktu, kemudahan, dan kadang-kadang kenyamanan.
Kesadaran ini bisa membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik. Bukan dengan berhenti jajan, tetapi dengan mengetahui kapan uang memang sedang digunakan untuk menghemat waktu—dan kapan kita sebenarnya hanya mengikuti kebiasaan.
Mungkin itu sebabnya warung makan sederhana akan tetap ada, bahkan ketika dunia kuliner terus berubah.
Selama manusia tetap sibuk, makanan yang cepat, terjangkau, dan bisa dipercaya akan selalu punya tempat.
Sumber: Badan Pusat Statistik (Susenas September 2024 dan Susenas Maret 2022); BPS Kota/Provinsi terkait; Databoks berdasarkan data BPS.



