Gagasan kota hijau sering diterjemahkan menjadi menambah taman. Padahal kota yang benar-benar nyaman membutuhkan jaringan ruang hijau yang terhubung dengan jalan, bangunan, sungai, dan kawasan permukiman.
Pada 16 September 2026, Presiden Prabowo Subianto mendorong Jakarta menjadi contoh kota hijau melalui perluasan ruang terbuka, taman kota, dan vertical garden pada gedung-gedung tinggi. Dorongan itu disampaikan saat peresmian LRT Kelapa Gading–Manggarai dan dikaitkan dengan Gerakan Indonesia ASRI.
Mengapa gedung ikut penting?
Lahan di pusat kota terbatas. Karena itu, penghijauan tidak selalu bisa mengandalkan tanah kosong. Dinding, balkon, atap, dan area parkir dapat menjadi bagian dari strategi menambah vegetasi, selama dirancang dengan memperhatikan struktur, air, perawatan, dan keselamatan.
Pohon jalanan punya fungsi yang lebih besar
Kanopi pohon dapat membuat jalur pejalan kaki lebih nyaman dan membantu mengurangi paparan panas. Jika jalur hijau dirancang menyambung, manfaatnya tidak berhenti pada satu taman, tetapi menciptakan jaringan ruang publik yang lebih nyaman untuk berjalan.
Kota hijau bukan hanya soal estetika
Ruang hijau yang baik membantu kota menghadapi panas, mengelola air hujan, dan menyediakan ruang interaksi sosial. Namun keberhasilannya tetap bergantung pada perawatan. Tanaman yang mati, taman yang tidak terawat, atau vertical garden yang hanya menjadi dekorasi tidak menghasilkan manfaat maksimal.
Karena itu, konsep kota hijau sebaiknya dipahami sebagai perubahan cara kota bekerja. Gedung, jalan, taman, transportasi publik, dan kawasan permukiman harus dipikirkan sebagai satu ekosistem.
Sumber: ANTARA, 16 September 2026.


