Kehadiran AI di ruang kelas mengubah satu hal penting dalam pendidikan: siswa semakin mudah memperoleh jawaban. Tantangan berikutnya adalah memastikan mereka tetap mampu bertanya, memeriksa, membandingkan, dan memahami jawaban tersebut.
Pada September 2026, pemerintah Indonesia menekankan prinsip human-centered AI dalam pengembangan ekosistem kecerdasan artifisial. Pedoman penggunaan teknologi dan AI di pendidikan juga diarahkan agar siswa tidak sekadar memakai layanan AI instan untuk menjawab tugas, melainkan menggunakan teknologi dalam konteks pembelajaran yang dibimbing.
AI bukan pengganti rasa ingin tahu
Jika siswa hanya meminta AI menyelesaikan soal, proses berpikir dapat menjadi terlalu singkat. Sebaliknya, AI dapat menjadi alat untuk membuat pertanyaan lebih baik, mencari sudut pandang alternatif, memberi contoh, atau membantu siswa memahami konsep yang sulit.
Guru tetap penting karena konteks tidak selalu terlihat
AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan tetapi belum tentu sesuai konteks. Guru memahami kemampuan siswa, tujuan pembelajaran, dan kondisi kelas. Peran tersebut membuat guru tetap menjadi pengarah utama ketika teknologi digunakan.
Keterampilan baru yang perlu dilatih
Sekolah dapat mengajarkan siswa memeriksa sumber, meminta penjelasan, menguji asumsi, membandingkan dua jawaban, dan mengakui ketika sebuah informasi belum dapat diverifikasi. Ini jauh lebih berguna daripada sekadar menghafal cara memakai satu aplikasi.
Di masa ketika AI semakin mudah diakses, pendidikan justru perlu semakin kuat dalam membangun nalar manusia. Teknologi yang baik bukan yang membuat siswa berhenti berpikir, tetapi yang membantu mereka berpikir lebih luas dan lebih kritis.
Sumber: ANTARA, 4 September 2026.


