Harga Beras Masih Tinggi: Apa Hubungannya dengan Cuaca dan Ketahanan Pangan?
Harga beras kembali menjadi perhatian setelah data terbaru menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi. Namun, persoalannya bukan sekadar harga di rak toko. Di belakang satu kilogram beras ada persoalan cuaca, irigasi, produksi, distribusi, hingga keputusan petani untuk menentukan tanaman berikutnya.
Reuters melaporkan harga eceran beras Indonesia mencapai sekitar Rp15.769 per kilogram pada September 2026. Produksi 2026 diperkirakan sekitar 34 juta ton, tetapi risiko untuk 2027 meningkat karena ancaman El Niño, musim hujan yang lebih pendek, serta kondisi irigasi yang belum merata. Sekitar 30 persen lahan sawah disebut belum memiliki irigasi yang memadai.
Mengapa cuaca bisa terasa di meja makan?
Padi membutuhkan air pada fase pertumbuhan yang tepat. Ketika pola hujan berubah, petani tidak hanya menghadapi risiko hasil panen yang turun, tetapi juga harus mengubah kalender tanam. Di wilayah yang bergantung pada hujan, perubahan beberapa minggu saja dapat memengaruhi keputusan menanam.
Masalahnya menjadi lebih kompleks ketika sawah tidak memiliki akses irigasi yang cukup. Dalam kondisi kering, petani dapat menunda tanam, mengganti komoditas, atau membiarkan lahan sementara tidak ditanami. Pilihan tersebut masuk akal dari sisi petani, tetapi dapat mengurangi pasokan beras pada periode berikutnya.
Distribusi juga menentukan harga
Beras tidak langsung berpindah dari sawah ke meja makan. Ada penggilingan, transportasi, pedagang, gudang, dan pengecer. Jika biaya pada salah satu mata rantai meningkat, harga akhir dapat ikut terdorong.
Karena itu, ketahanan pangan kota sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak sawah yang dimiliki sebuah negara. Infrastruktur jalan, gudang, pasar, sistem informasi harga, dan kemampuan menjaga cadangan juga menentukan apakah pasokan dapat bergerak secara efisien.
Apa yang bisa dilakukan kota dan rumah tangga?
Kota memang tidak dapat mengendalikan cuaca, tetapi dapat memperkuat rantai pasok dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber. Perencanaan pasar, gudang pangan, transportasi, dan ruang distribusi menjadi semakin penting ketika risiko iklim meningkat.
Di tingkat rumah tangga, tidak berarti kita harus menimbun beras dalam jumlah besar. Yang lebih masuk akal adalah mengurangi pemborosan makanan, membeli secukupnya, dan memahami bahwa harga pangan dipengaruhi banyak faktor di luar supermarket.
Pelajaran yang lebih besar
Ancaman terhadap beras menunjukkan bahwa isu iklim sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika hujan berubah, dampaknya dapat muncul di sawah, kemudian di biaya distribusi, dan akhirnya di pengeluaran keluarga.
Karena itu, membangun ketahanan pangan berarti membangun sistem yang lebih tahan terhadap perubahan: irigasi yang baik, distribusi yang efisien, cadangan yang dikelola tepat, dan kebijakan yang tetap memberi ruang bagi petani untuk memperoleh keuntungan yang wajar.



