Selama ini persoalan sampah kota sering dibayangkan sebagai urusan mengangkut sampah dari rumah menuju satu tempat pembuangan besar. Model seperti itu praktis, tetapi semakin banyak kota mulai memikirkan pendekatan yang lebih dekat dengan sumber sampah.
Di Bandung, program pengelolaan sampah terdesentralisasi mulai mendapat perhatian pada September 2026. Empat pusat pengelolaan sampah skala kawasan disiapkan dengan kapasitas gabungan sekitar 1.200 ton per hari. Pendekatan ini menempatkan sebagian proses pengolahan lebih dekat dengan kawasan yang menghasilkan sampah.
Mengapa desentralisasi menarik?
Semakin jauh sampah harus diangkut, semakin besar kebutuhan armada, waktu, bahan bakar, dan lahan untuk pengelolaan. Dengan pusat pengolahan yang lebih dekat, kota berpotensi mengurangi sebagian perjalanan angkutan sekaligus membuka peluang pemilahan dan pengolahan yang lebih terarah.
Bukan berarti tempat pembuangan besar menjadi tidak penting
Pengelolaan terdesentralisasi bukan berarti setiap lingkungan harus mengolah seluruh sampahnya sendiri. Yang lebih realistis adalah membagi sistem menjadi beberapa simpul: pemilahan di tingkat rumah atau kawasan, pengolahan organik dan material yang masih bernilai, kemudian pengiriman residu ke fasilitas yang sesuai.
Perubahan terbesar justru terjadi di tingkat warga
Teknologi pengolahan tidak akan menyelesaikan masalah jika sampah masih tercampur sejak dari rumah. Pemilahan sederhana antara organik, material yang dapat didaur ulang, dan residu dapat meningkatkan kualitas bahan yang masuk ke fasilitas pengolahan.
Jika model seperti Bandung berhasil, pelajarannya bukan sekadar tentang satu teknologi. Pelajarannya adalah bahwa kota dapat mendesain sistem sampah berdasarkan karakter kawasan, jarak, volume, dan kebutuhan warganya.
Sumber: Sirkularium, 27 September 2026.


