Sekolah Digital Tidak Cukup dengan Laptop: Mengapa Listrik dan Koneksi Menjadi Fondasi
Ketika sekolah berbicara tentang digitalisasi, perhatian sering tertuju pada laptop, tablet, layar interaktif, atau aplikasi belajar. Padahal ada fondasi yang jauh lebih sederhana: listrik yang andal dan koneksi yang memadai.
Pada September 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempercepat akses listrik untuk sekolah, termasuk wilayah terpencil, tertinggal, dan terdepan. Pemerintah menekankan bahwa distribusi perangkat saja tidak cukup tanpa ekosistem pendukung yang siap.
Teknologi pendidikan dimulai dari hal paling dasar
Guru tidak dapat mengandalkan materi digital jika listrik sering padam. Murid juga sulit mengikuti pembelajaran daring jika koneksi tidak stabil. Karena itu, digitalisasi sekolah seharusnya dilihat sebagai pembangunan ekosistem, bukan sekadar pengadaan perangkat.
Yang berubah bukan hanya cara belajar
Jika infrastruktur dasar tersedia, sekolah dapat memanfaatkan perpustakaan digital, video pembelajaran, simulasi, platform latihan, dan sumber pengetahuan yang lebih luas. Guru pun dapat menggunakan teknologi untuk menyiapkan materi dan mengevaluasi pembelajaran dengan lebih efisien.
Wilayah terpencil justru membutuhkan pendekatan yang fleksibel
Di daerah yang belum memiliki jaringan listrik stabil, solusi bisa berupa pembangkit energi lokal, penyimpanan baterai, perangkat hemat energi, dan materi digital yang dapat digunakan secara offline. Model seperti ini lebih realistis daripada memaksakan standar yang sama untuk semua sekolah.
Digitalisasi pendidikan pada akhirnya bukan perlombaan membeli perangkat paling baru. Ukuran keberhasilannya adalah apakah teknologi membuat guru lebih terbantu dan murid memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.
Sumber: ANTARA, 2 September 2026.



