Punya Rekening Belum Tentu Paham Uang: Ada Jarak 24 Persen yang Perlu Kita Perhatikan
Ada satu angka dari data keuangan Indonesia yang cukup membuat kita berhenti sejenak.
93,61 persen.
Itulah indeks inklusi keuangan Indonesia pada 2026. Secara sederhana, angka ini menunjukkan betapa luas masyarakat sudah menggunakan atau memiliki akses terhadap produk dan layanan keuangan.
Namun ada angka lain yang jaraknya cukup jauh: 69,57 persen, yaitu indeks literasi keuangan.
Data itu berasal dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilakukan OJK, BPS, dan LPS. Dibandingkan 2025, keduanya memang meningkat: literasi dari 66,64 persen menjadi 69,57 persen, sedangkan inklusi dari 92,74 persen menjadi 93,61 persen.
Tetapi tetap ada jarak sekitar 24 poin persentase antara orang yang sudah menggunakan layanan keuangan dan orang yang memiliki tingkat literasi keuangan sesuai ukuran survei.
Jarak ini menarik karena kehidupan keuangan modern membuat kita bisa menggunakan banyak produk keuangan hanya dengan beberapa sentuhan di layar.
Kita semakin mudah menggunakan uang, tetapi belum tentu semakin paham
Hari ini membuka rekening bank cukup mudah. Pembayaran bisa dilakukan melalui ponsel. Pinjaman dapat diajukan secara digital. Investasi bisa dimulai dari aplikasi.
Kemudahan tersebut adalah kemajuan.
Namun kemudahan akses juga mempunyai konsekuensi: orang dapat masuk ke produk keuangan lebih cepat daripada mempelajari cara kerjanya.
SNLIK 2026 sendiri tidak mendefinisikan literasi keuangan hanya sebagai pernah mendengar istilah keuangan. Pengukurannya mencakup pengetahuan, keterampilan, keyakinan, sikap, dan perilaku.
Artinya, seseorang mungkin sudah memiliki rekening, menggunakan layanan pembayaran, bahkan memiliki beberapa produk keuangan, tetapi belum tentu memahami biaya, risiko, perlindungan, dan konsekuensi dari produk yang digunakannya.
Contoh paling sederhana: rekening dan uang yang ada di dalamnya
BPS, OJK, dan LPS menemukan bahwa 62,51 persen pemilik rekening mengetahui bahwa simpanannya memiliki program penjaminan. Tetapi yang benar-benar mengenal LPS hanya 46,31 persen.
Angka tersebut tidak berarti masyarakat tidak aman menyimpan uang di bank. Tetapi angka itu menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai siapa yang menjamin simpanan dan bagaimana mekanismenya belum merata.
Ini contoh kecil dari perbedaan antara menggunakan layanan dan memahami layanan.
Perbedaan itu ternyata juga terlihat dari pendidikan
Data SNLIK 2026 menunjukkan hubungan yang cukup jelas antara tingkat pendidikan dan literasi keuangan.
Indeks literasi keuangan tercatat 45,23 persen pada kelompok yang tidak atau belum pernah sekolah atau tidak tamat SD. Angkanya naik menjadi 59,67 persen untuk tamat SD, 67,72 persen untuk tamat SMP, 79,17 persen untuk tamat SMA, dan mencapai 93,46 persen pada lulusan perguruan tinggi.
Sementara itu, akses terhadap layanan keuangan tetap relatif tinggi di semua kelompok pendidikan.
Ini penting karena menunjukkan bahwa persoalan literasi bukan sekadar soal memiliki akses.
Kita bisa punya akses ke produk keuangan tanpa otomatis mempunyai kemampuan untuk menilai apakah produk tersebut cocok bagi kita.
Di sinilah keputusan kecil sehari-hari menjadi penting
Literasi keuangan sering dibayangkan sebagai sesuatu yang rumit: saham, obligasi, pajak, investasi, dan berbagai istilah keuangan lainnya.
Padahal sebagian keputusan finansial terbesar justru dimulai dari hal yang sangat sederhana.
Berapa uang yang sebenarnya boleh kita belanjakan bulan ini?
Berapa cicilan yang masih aman untuk keluarga?
Apakah sebuah pinjaman membantu atau justru mengurangi ruang keuangan kita?
Apakah kita tahu biaya yang dikenakan sebuah layanan?
Apakah uang darurat benar-benar tersedia ketika dibutuhkan?
Apakah kita memahami risiko sebelum menaruh uang di sebuah produk?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin lebih berguna daripada sekadar hafal banyak istilah keuangan.
Jangan terjebak pada angka penghasilan
Ada orang yang penghasilannya besar tetapi selalu merasa kekurangan.
Ada pula yang penghasilannya lebih sederhana tetapi mampu menjaga tabungan dan kewajiban tetap terkendali.
Karena itu, kemampuan mengelola uang tidak bisa hanya dinilai dari berapa besar penghasilan.
Yang juga penting adalah apa yang terjadi setelah uang masuk ke rekening.
Apakah sebagian disisihkan?
Apakah utang terkendali?
Apakah pengeluaran mempunyai prioritas?
Apakah ada persiapan ketika sumber penghasilan terganggu?
Di sinilah literasi keuangan menjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mungkin kita tidak perlu menjadi ahli keuangan
Salah satu kesalahpahaman tentang literasi keuangan adalah anggapan bahwa kita harus memahami semuanya.
Tidak.
Kita hanya perlu memahami cukup banyak untuk tidak mengambil keputusan penting secara buta.
Sebelum mengambil pinjaman, pahami total biaya dan kemampuan membayar.
Sebelum membeli produk investasi, pahami risiko dan tujuan penggunaannya.
Sebelum membeli sesuatu secara cicilan, tanyakan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.
Sebelum membeli rumah, hitung bukan hanya cicilannya, tetapi juga biaya hidup, perawatan, pajak, dan kebutuhan keluarga setelah rumah dimiliki.
Keputusan keuangan yang baik sering kali bukan keputusan yang paling menguntungkan di atas kertas.
Sering kali justru keputusan yang membuat kita masih punya ruang bernapas ketika sesuatu yang tidak kita rencanakan terjadi.
Ada kabar baik dari data terbaru
Meski masih terdapat kesenjangan, literasi keuangan Indonesia terus meningkat.
OJK, BPS, dan LPS mencatat indeks literasi keuangan naik hampir tiga poin persentase dibandingkan 2025. Bahkan angka 69,57 persen sudah melampaui target RPJMN 2025–2029 untuk 2029 yang sebesar 69,35 persen.
Artinya, semakin banyak orang mulai mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola keputusan keuangan.
Tantangannya sekarang bukan hanya memperluas akses.
Tantangannya adalah memastikan akses tersebut diikuti pemahaman.
Karena uang yang mudah digunakan juga mudah salah digunakan
Dulu banyak keputusan keuangan membutuhkan waktu: datang ke bank, mengisi formulir, menunggu proses, lalu memutuskan.
Sekarang sebagian keputusan dapat dilakukan dalam hitungan menit.
Itu sangat membantu.
Tetapi karena prosesnya cepat, kita juga perlu memberi diri sendiri satu hal yang tidak bisa disediakan aplikasi:
waktu untuk berpikir.
Berhenti sebentar sebelum klik.
Baca sebelum menyetujui.
Hitung sebelum mencicil.
Pahami sebelum berinvestasi.
Dan tanyakan satu hal sebelum mengambil keputusan:
“Kalau kondisi saya berubah enam bulan dari sekarang, apakah keputusan ini masih aman?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak membuat kita menjadi ahli keuangan.
Tetapi bisa membuat kita menjadi pengguna layanan keuangan yang lebih sadar.
Sumber utama: OJK, BPS, dan LPS, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, dirilis Agustus 2026.
