Pulang Kerja, Tapi Kantornya Ikut Pulang: Ketika Notifikasi Membuat Kita Tidak Pernah Benar-Benar Selesai Bekerja

Jam kerja selesai pukul lima.

Laptop sudah ditutup. Tas sudah dibawa pulang. Perjalanan menuju rumah pun dimulai.

Tetapi beberapa menit kemudian ponsel berbunyi.

“Mas, tolong dicek ya.”

Lalu masuk lagi satu pesan.

“Besok pagi jangan lupa meeting.”

Secara fisik kita sudah meninggalkan kantor. Tetapi pekerjaan ternyata belum tentu ikut tertinggal.

Kantor sekarang bisa masuk ke saku

Smartphone dan aplikasi pesan memang membuat pekerjaan jauh lebih mudah. File dapat dikirim dari mana saja. Rekan kerja bisa dihubungi tanpa menunggu hari berikutnya. Dalam banyak pekerjaan, fleksibilitas seperti ini sangat membantu.

Masalahnya muncul ketika kemudahan berkomunikasi berubah menjadi keadaan di mana seseorang merasa harus selalu tersedia.

Penelitian yang diterbitkan pada 27 Agustus 2026 di Global Research on Economy, Business, Communication, and Information mencoba melihat persoalan tersebut melalui pengalaman pekerja Generasi Z di Jakarta Utara.

Peneliti mewawancarai 11 pekerja dari berbagai latar industri. Hasilnya menunjukkan bahwa pesan pekerjaan yang masuk di luar jam kerja dapat memicu konflik kognitif, kecemasan, dan kelelahan psikologis. Sebagian pekerja bahkan menggunakan cara perlindungan diri, seperti memisahkan perangkat atau sengaja menunda respons, agar ruang pribadi mereka tidak terus terganggu. Baca penelitian selengkapnya.

Yang melelahkan kadang bukan pekerjaannya

Ada perbedaan antara mengerjakan sesuatu selama satu jam dan memikirkan pekerjaan selama satu jam.

Bayangkan pukul 20.30 sebuah pesan masuk dari atasan:

“Besok kita bahas ya.”

Pesannya mungkin tidak meminta kita melakukan apa pun malam itu. Tetapi pikiran dapat langsung bekerja:

Besok membahas apa? Ada masalah? Harus disiapkan sekarang? Apakah pekerjaan saya kurang baik?

Satu notifikasi mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibaca. Namun pikiran tentang pesan itu bisa bertahan jauh lebih lama.

Inilah yang membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi penting. Tubuh bisa berhenti bekerja, tetapi pikiran belum tentu langsung berhenti.

Fleksibilitas kerja ternyata punya sisi lain

Kita sering menganggap bekerja fleksibel sebagai sesuatu yang otomatis membuat hidup lebih nyaman. Tidak selalu.

Penelitian lain terhadap 400 pekerja Generasi Z di berbagai industri di Indonesia menemukan bahwa flextime sendiri tidak secara signifikan memperbaiki work-life balance. Yang justru berperan penting adalah kemampuan membuat batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau boundary management.

Penelitian tersebut diterbitkan dalam Management Analysis Journal pada 31 Maret 2026. Temuannya juga menunjukkan adanya apa yang disebut peneliti sebagai autonomy paradox: semakin besar kebebasan mengatur waktu, seseorang justru bisa semakin mudah membawa pekerjaan masuk ke waktu pribadi. Lihat ringkasan penelitian di Garuda.

Artinya, bekerja fleksibel bukan berarti harus selalu siap

Ini mungkin salah satu pelajaran terpenting dari penelitian tersebut.

Bisa bekerja kapan saja tidak sama dengan harus bekerja kapan saja.

Fleksibilitas seharusnya memberi seseorang ruang untuk mengatur pekerjaan dengan lebih baik. Bukan membuat seluruh waktu menjadi jam kerja yang tidak pernah benar-benar selesai.

Masalah ini bahkan mulai dibicarakan dalam konteks regulasi ketenagakerjaan. Sebuah kajian dalam Jurnal Ketenagakerjaan 2026 menyebut adanya risiko working-time spillover, yaitu ketika pekerjaan merembes melewati jam kerja formal dan masuk ke waktu istirahat. Kajian tersebut muncul dalam pembahasan tentang kerja hybrid, remote, dan gagasan empat hari kerja. Baca kajiannya di Jurnal Ketenagakerjaan.

Kita sering ada di rumah, tetapi belum tentu benar-benar pulang

Coba perhatikan suasana di rumah.

Anak sedang bercerita tentang sekolah. Pasangan sedang mengajak berbicara. Makan malam sudah tersedia.

Lalu ponsel berbunyi.

Kita melihat sebentar. Membalas sebentar. Kemudian kembali ke meja makan.

Tidak ada yang salah dengan membalas pesan. Tetapi jika ini terjadi berkali-kali setiap hari, ada kemungkinan sebagian perhatian kita selalu tersisa untuk pekerjaan.

Rumah akhirnya hanya menjadi tempat memindahkan tubuh setelah jam kantor selesai.

Padahal rumah seharusnya juga menjadi tempat untuk memulihkan tenaga.

Tidak semua notifikasi harus dijawab malam itu

Bukan berarti semua pesan pekerjaan harus diabaikan setelah jam kerja. Ada profesi tertentu yang memang membutuhkan respons cepat. Ada keadaan darurat. Ada pekerjaan yang memiliki sistem piket.

Yang perlu dibedakan adalah pesan yang masuk dan pesan yang benar-benar mendesak.

Kita bisa mulai dari hal sederhana: mematikan notifikasi grup tertentu setelah jam kerja, memisahkan perangkat kerja dan pribadi bila memungkinkan, atau menyepakati jam komunikasi yang jelas dengan tim.

Perusahaan juga mempunyai peran. Jika budaya kerja menganggap respons cepat pada malam hari sebagai ukuran loyalitas, pekerja akan sulit membuat batas meskipun secara formal jam kerjanya sudah selesai.

Teknologi memberi kita kemudahan, tetapi juga menuntut kedewasaan

Dulu, ketika seseorang pulang dari kantor, pekerjaan secara harfiah tertinggal di meja.

Sekarang meja kerja bisa masuk ke saku.

Satu ponsel bisa berisi keluarga, teman, hiburan, transaksi keuangan, media sosial, berita, sekaligus pekerjaan.

Karena semuanya berada di perangkat yang sama, kita membutuhkan sesuatu yang dulu hampir tidak pernah dibicarakan: batas.

Batas kapan kita bekerja.

Batas kapan kita tersedia.

Dan batas kapan kita berhak tidak melakukan apa-apa.

Pulang sebenarnya bukan hanya berpindah tempat

Pulang bukan sekadar keluar dari gedung kantor.

Pulang berarti pikiran juga mendapatkan kesempatan untuk berhenti bekerja.

Untuk berbicara dengan pasangan.

Untuk bermain dengan anak.

Untuk makan tanpa terburu-buru.

Untuk berjalan sebentar.

Untuk tidur tanpa memikirkan pesan yang belum dibalas.

Pada akhirnya, produktivitas bukan hanya tentang berapa lama seseorang bekerja. Ada juga nilai dari seberapa baik seseorang bisa berhenti bekerja.

Dan di zaman ketika kantor dapat masuk ke rumah hanya melalui sebuah notifikasi, kemampuan untuk mengatakan “hari ini sudah selesai” mungkin justru menjadi salah satu keterampilan hidup yang semakin penting.

Sumber: Handayani dkk. (2026), Global Research on Economy, Business, Communication, and Information; Alamudi & Rizqi (2026), Management Analysis Journal; dan Syari dkk. (2026), Jurnal Ketenagakerjaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses