Punya Rumah Belum Tentu Berarti Tinggal di Rumah Layak: 18 Juta Rumah Tangga Masih Menghadapi Masalah Hunian
Ada satu angka dari data perumahan terbaru Indonesia yang menarik untuk diperhatikan. Pada Maret 2026, sekitar 18,01 juta rumah tangga atau 24,03 persen tercatat masih menghadapi persoalan kelayakhunian rumah. Angka ini memang sudah turun dari 18,77 juta rumah tangga pada 2025, tetapi jumlahnya masih sangat besar.
Di saat yang sama, persoalan kepemilikan rumah juga mengalami perbaikan. Backlog kepemilikan rumah atau backlog 1 turun menjadi 9,29 juta rumah tangga, dari sekitar 9,64 juta pada 2025.
Data tersebut berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Perumahan 2026.
Punya rumah dan punya rumah layak ternyata dua hal yang berbeda
Selama ini persoalan perumahan sering dibicarakan dengan pertanyaan sederhana: berapa banyak orang Indonesia yang belum punya rumah?
Pertanyaan itu memang penting. Namun data terbaru menunjukkan bahwa ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: kalau seseorang sudah punya rumah, apakah rumah tersebut benar-benar layak untuk ditinggali?
BPS membedakan dua persoalan tersebut. Backlog 1 menggambarkan rumah tangga yang belum memiliki rumah sendiri. Sementara backlog 2 menggambarkan rumah tangga yang sudah menempati rumah milik sendiri tetapi kondisi rumahnya belum memenuhi kriteria rumah layak huni.
Dengan definisi ini, kita bisa melihat gambaran yang lebih lengkap. Pada 2026, backlog kepemilikan berada di 12,39 persen atau sekitar 9,29 juta rumah tangga. Sementara backlog kelayakhunian mencapai 24,03 persen atau sekitar 18,01 juta rumah tangga.
Artinya, persoalan perumahan tidak selesai hanya ketika seseorang berhasil memiliki rumah.
Rumah layak ternyata bukan soal besar atau mahal
Menariknya, rumah layak huni juga tidak identik dengan rumah besar, mewah, atau berada di kawasan mahal.
Menurut BPS, penilaian rumah layak huni mencakup beberapa komponen. Pada 2026, ketahanan bangunan mencapai 87,52 persen, kecukupan luas lantai per kapita 94,91 persen, akses air minum layak 93,71 persen, dan akses sanitasi layak 86,73 persen.
Dari angka tersebut terlihat bahwa sanitasi masih menjadi komponen dengan capaian terendah. Jadi, sebuah rumah bisa saja berdinding permanen, cukup luas, dan terlihat bagus dari depan, tetapi belum tentu seluruh kebutuhan dasar penghuninya terpenuhi.
Inilah bagian dari data yang sering tidak terlihat ketika kita hanya menilai rumah dari foto, luas tanah, jumlah kamar, atau tampilan bangunannya.
Perubahan kecil ternyata berarti bagi jutaan keluarga
Kabar baiknya, hampir seluruh indikator menunjukkan perbaikan.
Akses terhadap rumah layak huni meningkat dari 68,40 persen pada 2025 menjadi 70,30 persen pada 2026. Backlog kepemilikan turun sekitar 350 ribu rumah tangga dalam satu tahun. Backlog kelayakhunian juga turun sekitar 762 ribu rumah tangga.
Penurunan itu belum membuat persoalan selesai. Tetapi angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan kecil pada skala nasional bisa berarti perubahan nyata bagi ratusan ribu keluarga.
BPS juga mencatat bahwa pada semester I 2026, program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya atau yang lebih dikenal sebagai program bedah rumah telah mencapai 88.635 unit. Sebagai pembanding, sepanjang 2025 capaiannya 45.073 unit.
Data ini menunjukkan bahwa memperbaiki rumah yang sudah ada juga merupakan bagian penting dari persoalan perumahan, bukan hanya membangun rumah baru.
Mungkin selama ini kita terlalu fokus pada “punya rumah”
Bagi sebuah keluarga, memiliki rumah memang merupakan pencapaian besar. Rumah memberikan rasa aman, kepastian tempat tinggal, dan menjadi aset yang dapat diwariskan.
Tetapi setelah rumah dimiliki, pertanyaan berikutnya seharusnya tidak berhenti.
Apakah rumah ini benar-benar mendukung kehidupan keluarga?
Apakah airnya aman? Apakah sirkulasinya cukup? Apakah sanitasinya baik? Apakah bangunannya cukup kuat? Apakah luasnya memungkinkan anggota keluarga hidup dengan nyaman?
Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi justru menyentuh kualitas kehidupan sehari-hari.
Pelajaran penting bagi orang yang sedang mencari rumah
Data BPS ini juga relevan bagi orang yang sedang mencari rumah. Harga dan lokasi memang penting, tetapi jangan sampai penilaian berhenti pada dua hal tersebut.
Sebuah rumah yang sedikit lebih mahal tetapi mempunyai kualitas bangunan, air, sanitasi, dan lingkungan yang lebih baik bisa saja lebih masuk akal untuk kehidupan jangka panjang.
Sebaliknya, rumah yang terlihat murah belum tentu benar-benar murah apabila setelah dibeli membutuhkan biaya renovasi besar hanya untuk membuatnya nyaman dan sehat.
Karena itu, ketika melihat rumah, cobalah membedakan antara harga rumah dan biaya untuk membuat rumah tersebut benar-benar layak dihuni.
Yang menarik, persoalan ini bukan hanya masalah pemerintah
Data perumahan biasanya identik dengan program pemerintah. Padahal persoalan hunian juga menyangkut keputusan jutaan keluarga.
Seseorang mungkin memilih membeli rumah lebih kecil agar cicilannya tetap aman. Keluarga lain mungkin memilih merenovasi rumah lama daripada pindah. Ada yang memprioritaskan memperbaiki atap, ada yang lebih dulu memperbaiki kamar mandi, dan ada yang memilih menambah ruang karena jumlah anggota keluarga bertambah.
Tidak ada satu jawaban yang cocok untuk semua orang.
Justru karena kondisi tiap keluarga berbeda, ukuran keberhasilan sebuah rumah seharusnya bukan sekadar “sudah punya rumah”, tetapi “rumah tersebut membantu keluarga menjalani hidup dengan lebih baik.”
Angka 18 juta bukan sekadar angka
Ketika membaca angka 18,01 juta rumah tangga, kita mudah melihatnya sebagai statistik.
Padahal di balik angka tersebut ada jutaan rumah, jutaan keluarga, anak-anak yang tumbuh di dalamnya, orang tua yang berusaha menjaga rumah tetap berdiri, dan keluarga yang mungkin sedikit demi sedikit memperbaiki kondisi tempat tinggalnya.
Karena itu, berita tentang penurunan backlog memang layak disambut baik. Tetapi data yang sama juga mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju hunian yang benar-benar layak masih panjang.
Rumah bukan hanya tentang memiliki alamat.
Rumah adalah tempat seseorang tidur, membesarkan anak, memulihkan diri setelah bekerja, menyimpan barang-barang yang berharga, dan menjalani sebagian besar kehidupannya.
Mungkin itu sebabnya ketika membicarakan perumahan, kita perlu melihat lebih jauh daripada pertanyaan “punya rumah atau belum”. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah: “Seperti apa kehidupan yang berlangsung di dalam rumah itu?”
Sumber data: Badan Pusat Statistik, Statistik Perumahan 2026 dan rilis 22 Agustus 2026.
