Ketika Satu Gaji Tidak Lagi Cukup, Mengapa Semakin Banyak Orang Indonesia Punya Pekerjaan Kedua?
Dulu, memiliki pekerjaan tetap sering dianggap sebagai tanda bahwa kehidupan sudah cukup aman.
Masuk kerja pagi, menerima gaji setiap bulan, membayar kebutuhan rumah tangga, lalu menabung sedikit untuk masa depan.
Sekarang, pola itu mulai berubah.
Bukan karena semua orang tiba-tiba ingin menjadi pengusaha. Bukan pula karena semua orang mengejar kesuksesan besar. Sebagian orang hanya merasa bahwa satu sumber penghasilan semakin sulit memberikan rasa aman.
Pekerjaan kedua ternyata lebih banyak soal bertahan
Survei Katadata Insight Center (KIC) terhadap 1.000 orang kelas menengah Indonesia menunjukkan bahwa 46,3 persen responden memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama.
Dari mereka yang memiliki pekerjaan sampingan, alasan terbesar adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menambah tabungan.
Temuan ini membuat kita perlu melihat side hustle dari sudut yang berbeda. Bagi sebagian orang, pekerjaan kedua bukan sekadar cara mendapatkan uang lebih untuk gaya hidup. Ia adalah cara untuk membuat keuangan keluarga terasa sedikit lebih aman.
Yang menarik, banyak orang tidak memulai dari nol
Salah satu pola yang muncul adalah memanfaatkan kemampuan yang sudah dimiliki.
Seorang jurnalis, misalnya, dapat menggunakan kemampuan menulisnya untuk menerima pekerjaan dari klien di luar pekerjaan utama. Ia tidak mempelajari profesi yang benar-benar baru. Ia hanya menemukan bahwa keahliannya ternyata memiliki nilai di tempat lain.
Hal serupa sebenarnya ada di sekitar kita.
Orang yang bekerja sebagai staf administrasi mungkin pandai membuat desain. Guru mungkin bisa menerjemahkan. Karyawan toko mungkin punya kemampuan membuat video. Agen properti mungkin mempunyai pengetahuan mendalam tentang suatu kawasan.
Pekerjaan utama adalah salah satu sumber nilai dari seseorang, bukan satu-satunya.
Teknologi membuat kemampuan lebih mudah dijual
Dalam survei Tirto–Jakpat pada April 2026, 47,36 persen responden mengatakan sudah memiliki pekerjaan sampingan, sementara 46,32 persen yang belum memiliki mengatakan berencana memilikinya.
Bisnis online, freelance, dan pekerjaan berbasis digital menjadi pilihan yang cukup banyak. Salah satu penyebabnya sederhana: pekerjaan tersebut relatif lebih mudah dilakukan tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.
Seorang karyawan bisa bekerja di kantor pada siang hari dan mengerjakan desain pada malam hari. Orang lain bisa menjual produk secara online. Yang lain lagi bisa menerima pekerjaan berdasarkan keahlian tertentu.
Tetapi ada harga yang harus dibayar
Fenomena ini tidak semuanya positif.
Pekerjaan kedua bisa berarti berkurangnya waktu istirahat, waktu bersama keluarga, atau energi untuk pekerjaan utama. Karena itu, semakin banyak orang memiliki side hustle tidak otomatis berarti masyarakat semakin sejahtera.
Bisa jadi justru ada kebutuhan yang sedang mereka coba tutupi.
Karena itu, sebelum mengambil pekerjaan kedua, ada tiga hal sederhana yang perlu dihitung: waktu yang tersedia, energi yang tersisa, dan uang yang benar-benar bisa dihasilkan.
Mungkin yang perlu dibangun bukan pekerjaan kedua
Ada perbedaan antara bekerja lebih lama dan membangun sumber penghasilan kedua.
Pekerjaan kedua biasanya berarti kembali menukar waktu dengan uang. Sementara sumber penghasilan kedua bisa berasal dari kemampuan yang dapat dijual berulang kali, produk yang dapat dipasarkan, bisnis kecil yang bisa dibuat lebih sistematis, atau aset yang menghasilkan.
Tidak semuanya mudah dan tidak semuanya cocok untuk semua orang.
Tetapi cara berpikirnya berbeda: bukan sekadar bekerja lebih lama, melainkan membuat kondisi keuangan menjadi lebih kuat.
Yang sedang berubah sebenarnya adalah cara kita memandang pekerjaan
Generasi sebelumnya sering membayangkan karier sebagai satu garis lurus: sekolah, bekerja, naik jabatan, lalu pensiun.
Banyak orang sekarang menjalani pola yang lebih bercabang: pekerjaan utama, freelance, usaha kecil, investasi, atau penghasilan dari keahlian tertentu.
Itu bukan berarti semua orang harus memiliki side hustle.
Tetapi fenomenanya menunjukkan bahwa kemampuan untuk memiliki lebih dari satu pilihan mulai dipandang sebagai bentuk keamanan baru.
Pada akhirnya, pekerjaan sampingan bukan selalu cerita tentang orang yang ingin punya lebih banyak uang.
Kadang itu adalah cerita tentang seseorang yang sedang berusaha membuat kehidupan keluarganya sedikit lebih aman.
Dan mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan lagi, “Saya harus mencari pekerjaan sampingan apa?”
Melainkan:
“Apa yang sudah saya miliki hari ini, yang bisa menciptakan nilai bagi orang lain?”
Sumber data: Katadata Insight Center dan Tirto–Jakpat. Angka dan temuan dalam artikel dirangkum dari laporan/survei yang dikutip dalam pembahasan.
