Dari Bumbu hingga Cerita: Mengapa Gastronomi Bisa Menjadi Identitas Sebuah Kota
Makanan khas sering dianggap sekadar bagian dari pariwisata. Padahal, di balik satu piring makanan terdapat sejarah bahan, kebiasaan keluarga, teknik memasak, pasar, petani, pedagang, dan cerita sebuah daerah. Karena itu, gastronomi sebenarnya dapat menjadi bagian penting dari identitas kota.
Gagasan tersebut semakin terlihat menjelang Wonderful Indonesia Gastronomy 2026. Program yang diumumkan Kementerian Pariwisata pada September ini mengangkat tema From Local Roots to Global Recognition dan akan berlangsung di Solo serta Yogyakarta pada 26 September sampai 4 Oktober 2026, dengan rangkaian program yang berlanjut hingga akhir tahun.
Yang dijual bukan hanya rasa
Ketika wisatawan mencoba makanan tradisional, mereka sebenarnya membeli pengalaman. Mereka ingin tahu dari mana bahan berasal, mengapa bumbunya seperti itu, bagaimana makanan tersebut disajikan, dan apa hubungannya dengan kehidupan masyarakat setempat.
Inilah alasan istilah gastronomi menjadi lebih luas daripada sekadar kuliner. Gastronomi menghubungkan makanan dengan budaya, sejarah, lingkungan, ekonomi, dan cara hidup.
Kota perlu ruang untuk cerita makanan
Warung kecil, pasar tradisional, kedai keluarga, pusat jajanan, dan festival kuliner dapat menjadi ruang penting bagi identitas kota. Jika semua tempat makan dibuat seragam, kota kehilangan sebagian karakter yang membuatnya berbeda dari tempat lain.
Karena itu, pengembangan kawasan kuliner sebaiknya tidak hanya mengejar bangunan baru. Hal yang sama penting adalah mempertahankan pelaku usaha lokal, memperbaiki kebersihan, menyediakan akses yang nyaman, dan membuat ruang yang memungkinkan generasi muda mengenal makanan tradisional.
Dari bahan lokal sampai pelaku UMKM
Identitas kuliner juga berkaitan dengan rantai ekonomi. Ketika sebuah kota mempromosikan makanan khas, manfaat idealnya tidak berhenti pada restoran. Petani, nelayan, pengrajin bumbu, pasar, pengolah makanan, pedagang kecil, dan pekerja kreatif seharusnya ikut mendapatkan ruang.
Wonderful Indonesia Gastronomy 2026 bahkan memperluas programnya untuk membahas asal-usul bahan dan hidangan, kearifan lokal, tradisi, filosofi, serta pengalaman gastronomi kontemporer. Pendekatan seperti ini menarik karena membuat makanan dipahami sebagai ekosistem.
Teknologi justru bisa membantu tradisi
Digitalisasi tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Cerita tentang resep keluarga, lokasi pasar, proses pembuatan, hingga profil pembuat makanan dapat didokumentasikan melalui video, peta digital, podcast, dan media sosial.
Dengan begitu, generasi muda dapat menemukan kembali makanan lokal melalui cara yang sesuai dengan kebiasaan mereka.
Kuliner dapat menghidupkan kawasan
Kawasan kuliner yang baik juga membutuhkan lingkungan yang mendukung. Orang perlu bisa berjalan, duduk, bertemu, dan menikmati makanan dengan nyaman. Di sinilah hubungan antara gastronomi dan kota menjadi menarik.
Sebuah pasar yang hidup dapat membuat jalan di sekitarnya lebih aktif. Sebuah kedai yang dikelola keluarga dapat menjadi titik pertemuan warga. Festival makanan dapat mempertemukan produsen lokal dengan pengunjung dari luar kota.
Pada akhirnya, kota yang punya identitas kuliner kuat bukan hanya kota dengan banyak restoran. Ia adalah kota yang mampu menjaga hubungan antara makanan, manusia, tempat, dan cerita. Jika hubungan itu dipelihara, makanan lokal tidak hanya bertahan sebagai kenangan, tetapi dapat menjadi bagian dari masa depan kota.
Sumber: Kementerian Pariwisata, 15 September 2026; ANTARA, 15 September 2026.
